(Apakah) Semua Orang Pernah Salah Curhat (?)

 

“You never really understand a person until you consider things from his point of view… Until you climb inside of his skin and walk around in it.”

― Harper Lee, To Kill a Mockingbird

 

Dulu di awal-awal usia kepala 2, saya pernah ngerasa masalah saya sangat berat, sampai saya sering nangis dan merasa diri saya lemah.

dan saya ceritakan masalah saya ke mbak-mbak teman kerja part time yang seorang mahasiswI senior di psikologi, apa jawabannya?

“masalah gitu aja si.”

Sungguh buat saya itu adalah kampret moment. Saya yang saat itu masih masa transisi dan berharap mendapat bantuan dari teman saya, yang menurut saya usianya lebih matang dan punya ilmu yang tepat untuk membantu saya. Kampret karena ternyata si mbak itu malah bikin saya makin down.

Bisa kali ya si mbak njawabnya,

“itu memang masalah yang kerap kita hadapi di usia ini, tenang nanti kamu jadi semakin kuat kok untuk menghadapi hal-hal lainnya, anggap aja latihan”

Mungkin saya yang overthinker atau saya yang memang salah curhat. Sejak itu saya cuma berharap saya enggak salah curhat lagi.

Dan saya selalu berusaha mengingat, jika ada adek kelas, adek angkatan, adek organisasi, dan adek-adek lainnya yang curhat ke saya, saya harus ingat kampret moment di usia 20an itu.

I’m not hold a grudge, I just remember shit.

-anonym

Salah curhat kerap sekali kita lakukan (atau saya saja), dan ini kumpulan kampret moments salah curhat yang saya pernah lakukan, please..don’t try this at home.

  1. Curhat ke Orang yang Meremehkan

Seperti kisah saya di mukaddimah tadi.

Orang sering sok yes, dan lupa dulu pernah no – no.

kadang orang besar lupa kalau dulu pernah kecil.

Orangtua kadang lupa kalau dulu pernah muda.

Orang yang sudah berpasanagan, kdang lupa kalua dulu juga pernah ga payu macam kita.

Dan paling sering adalah orang kadang lupa kalua DIA pernah utang sama kita.

 

  1. Curhat ke Orang yang Hidupnya Lebih Susah

“aku pernah salah curhat, pas aku ngeluh sama si Sukremi teman sekelas kita, ternyata pas dia cerita, hidupnya lebih susah”. , curhat teman sekelas saya waktu ngampus di mantan IKIP.

 

Tapi ada hikmahnya si salah curhat sama orang yang lebih susah, saya jadi lebih bersyukur.

 

Saya, pernah dibuat nangis sepanjang 11 kilometer perjalanan pulang ke rumah, karena saya salah curhat tentang kemampuan saya yang enggak bisa membahagiakan kedua orangtua saya dengan segala keinginnanya. Jebulnya saya curhat ke temen yang kedua orangtuanya sudah enggak ada pas dia masih sekolah menengah. Saya enggak kuat lihat wajah tabah dia yang mbrambangi mengingat oangtuanya. Saya pamit dan akhirnya mbrebes mili di dalam helm. Sampai rumah saya langsung sungkem ke orangtua, minta maaf dan bersyukur masih menemui mereka berdua di rumah dalam keadaan sehat.

 

Tapi yo nek iso, jangan sampai cara kita bersyukur harus membuat orang membuka luka lamanya.

 

  1. Curhat ke Orang Berlambe Turah

Sungguh, kata-kata “Sst, jangan ceritain ke siapa-siapa ya! Ini rahasia.” adalah mitos.

Apalagi jaman-jaman saya sekolah di asrama. Curhat ama temen sekamar kalokita lagi naksir kakak kelas bisa menyebar lintas kamar, lintas asrama, dan lintas kelas yang bahkan akses komunikasi antar gender dibatasi, apalagi belum ada twitter, facebook dkk.

 

Kok yo iso? Itu semua karena mantra ajaib “ini rahasia, jangan bilang siapa-siapa.”

 

  1. Curhat ke Orang yang Lebih Mikirin Kita, daripada Kita Sendiri

Ajaran hipwee bahwa wanita tak perlu dibantu tapi hanya perlu didengar , kadang benar.

 

Saya adalah tipe orang yang kalo cerita sering lupa. Tapi temen saya kepikiran mulu sama cerita sedih saya.

Beberapa menit setelah kita berpisah dari sesi curhat pun, dia masih sempat bertanya via Line. “Kamu udah enggak papa kan?”

Dan saya pun lupa mbales Line besoknya….

“weh, ada apae?”

Totally saya bisa lupa dan sibuk nyelesaiin Klompencapir Regu A level 102 yang susah itu.

 

Kadang saya mikir, kok saya bangcad sekali ya bikin orang mikirin banget soal saya, sedangkan Tuhan menciptakan saya begitu pelupa.

 

  1. Curhat ke Sosial Media

 

Well, saya berusaha memegang teguh tagline.

“Real man face the problems, not facebook it”

Even im not a real man, tapi saya berusaha terlihat jentelmen.

 

Siapa tak kenal Awkarin? Awalnya saya ga kenal, lawong saya enggak punya banyak kuota buat mengikuti viral kehidupan di social media apalagi striming yutup. Tapi gara-gara grup whatsapp yang isinya orangtua beranak remaja pada brodkes mengenai hubungan romantic KPAI dan Awkarin, saya jadi tahu bahwa Awkarin adalah gadis dari kota kecil yang gegar budaya dan berubah menjadi  gadiskota semlehoy dan pacaran ala anak metropolis di Manhattan (ngendi kui) lalu putus dan curhat di yutup.

 

Apa faedahnya? Mungkin dia menjadi kaya raya karena like dan subskraiber yutupnya banyak dan dia jadi kaya raya menjadi yutuber ternama dan menambah pundi-pundinya.

Tapi apakah setimpal dengan jejak kehidupan yang diingat oleh jutaan orang?

 

Dan pada suatu hari di tahun 2070 ada anak Tadika Mesra yang pulang sambil menangis dan melapor ke opanya, “Opa kata kawanku, aku adalah cucu yutuber yang dulu pernah nangis gara2 diputusin pacarnya yang namanya Gaga. Itu bohong kan opa?”

 

 

Marilah lebih bijak dalam bercurhat.

Jangan sampai curhatan kita menjadi beban, hidup mereka aja udah sulit, ditambahi kisah hidup kita.

Jangan sampai curhatan kita malah menyakiti hati mereka, karena kita dianggap tak bersyukur dengan keaddan kita.

Kalau Ali bin Abi Thalib pernah bilang…

“Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun.

Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu.”

 

Wahai adek-adek belia generasi Z dan milenialis, ambillah pelajaran dari mahasiswi tingkat akhir ini, agar kalian tak perlu mengulangi kesalahan curhat para pendahulu..

Lah njuk pie? Nyetatus di fesbuk salah, bikin vlog curhat salah, curhat ama temen, salah…

 

Kalo kata Via Vallen dan NDX aka Familias, “Meh sambat kalih sinten, yen sampun mekaten…”

Ingatlah firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman, jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu….”

Pun, tante saya juga mengingatkan bahwa setiap manusia punya pergumulan dalam batin dan kehidupannya..entah itu masalah anak,orangtua, teman, harta, tahta, asamara, dan pekerjaan kita.. yang jelas dekatkan diri pada Tuhan, yang Islam bisa berdoa dalam sujudnya, yang ke gereja bisa lebih rajin ikuti kebaktian dan menghayati setiap doa.

Intinya jangan ke dukun atau menjadi penyembah setan.

Serem kan ya.

Tapi namanya juga manusia ya, pernah enggak si malu mau curhat ke Tuhan.. “aku ngrasa terlalu hina buat ngeluh ama Tuhan, udah dikasih banyak masak masih ngeluh juga”

Ya kembalilah kepada-Nya, curhat lah pada-Nya.

Ingat bahwa Tuhan kita yang menguji kita, masak Tuhan enggak punya kunci jawabannya?

Kalau masih merasa susah juga, siapa tahu Tuhan mengulurkan bantuan melalui tangan—tangan makhluknya.

Kalau masih merasa penuh dosa nan malu ama Tuhan, Daripada curhat ditulis di status fesbuk malah dihina, daripada dibikin vlog malah mewariskan aib keluarga, mending kamu tulis jadi materi standup comedy kayak Didi Sunardi yang di SUCI 7 itu.. menertawakan masalah hidup adalah tanda kedewasaan. 😀

 

Ditulis 22 Desember 2017.

Advertisements

Menulis (di Blog) (Lagi)

Lama banget ya nggak nulis (di blog).
Karena saya sebenarnya banyak nulis:tapi nulis artikel, tapi nulis paper, tapi nulis di twitter, nulis di blog tapi jadi draft semua.

Kesibukan sebagai fulltime freelance membuat menulis (di blog) menjadi lebih rumit.
sungguh, alas sing paling jembar kui jenenge alasan.
padahal tinggal nulis terus publish di blog, tapi bukan hal yang mudah kalau kita berpindah-pindah tempat tidur, malam ini tidur di kota, besok malam tidur di desa, siang berdesak-desakan di public transport (angkot, krl, trans -dalam kasus ini grab tidak saya hitung sebagai public transport ya.)
memang fase hidup menciptakan kesadaran
karena saya sadar publish di blog masih lebih mudah daripada publish di scopus, saya nulis lagi saja di blog.
close enough lah ya..

menulis di blog masih lebih mudah karena yang mengatur adalah kemageran kita, bukan reviewer.

dan menulis adalah terapi emosi yang baik,
karena kita enggak bisa mengungkapkan segalanya kepada siapa saja,
lebih baik nulis di blog, enggak ada yang baca,
atau twitteran.
karena orang enggak peduli tapi kita bisa salurkan emosi.
fyi: twitter masih ada dan enggak seramai instagram, ramah quota, dan masih informatif.

menulis di blog adalah salah satu cara menceritakan kembali hikmah2 yang kita dapat dari perjalanan kita, ke orang yang mau baca.
karena cuma orang niat yang punya waktu untuk klik url blog kita, lalu membaca tiap paragraf demi paragraf cerita kita.
kecuali pasang klikbait buat mendulang bitcoin atau adsense, sesungguhnya menulis di blog adalah sebuah ketulusan.

dan yang membaca juga saya pikir tulus, tulus memposting komen dengan konten iklan judi poker online di blog?
saya menulis (kembali) di blog untuk berkabar cerita2 dan perjalanan (hidup) yang saya alami beberapa tahun, bulan, dan pekan-pekan yang lalu.

tulisan saya selama ini adalah nonfiksi. artikel, paper, esai, iklan, komen, twit.
fiksi terakhir yang saya tulis adalah tesis saya. bukanlah. tulisan fiksi terakhir saya tugas bahasa indonesia dari bu puji, i hope i can remember it and publish it as “tugas menulis cerpen bahasa indonesia – reborn”.
menurut saya, nulis fiksi itu susah, seperti kata orang “kalo boong itu yang pinter,dong”.
mau liat hasil bohong yang bego? liat drama setnov yang kalau bohong butuh konsentrasi dan konsistensi tingkat tinggi.
karena saya ga konsisten dengan “alur kebohongan” yang ingin saya tulis, soalnya sering ama yang beneran aja enggak konsisten, apalagi ama yang dibuat-buat.
but im trying to challenge my self.
try to write down my experience mixed with my imagination, nih.. jadi nanti akan ada menu baru di blog:
#fiksi.

hasil pengalaman waktu jalan,obrolan, dan imajinasi yang liar.
harap maklum kalau besok-besok ada obrolan ataupun pengalaman yang tersebut dalam cerita fiksi, karena semua pastinya diilhami dari kisah nyata.
feel free kalau mau kasih saran di kolom comment ya.

untuk meminimalisir komen
“E(^(oo)^)3 lu ya, masak aib gue dimasukin ke cerita lu.”
saya bakal berusaha menghubungi tiap tokoh yang terlibat dalam cerita tersebut, minta ijin kalo ceritanya bakal dipublish. syukur-syukur ya kalo saya rajin saya bakal mengirimkan draft tulisan ke si “korban”, sebelum saya publish.

especially buat partner in crime saya, Handa, yang pernah jujur banget kalo kangen tulisan saya di blog. mungkin segala obrolan dan kelakuan gilak kita akan menjadi inspirasi cerita di postingan #fiksi selanjutnya.

well, here we go..

“ikatlah ilmu dengan menulisnya”

walaupun ilmu saya sampah semua, akan tetap saya tulis, silakan didaur ulang.

(Jogjakarta, 22 Desember 2017)

Bukan untuk Dibandingkan

12 November 2016

Akhir-akhir ini, saya makin meyakini bahwa setiap kita diciptakan berbeda dan tidak dibanding-bandingkan dengan sebuah parameter pengukuran yang sama.

kadang kan masyarakat belum terbuka ya untuk tidak membandingkan dengan ukuran yang salah.

misal kasus: kok anak saya makan apa saja enggak gendut2 ya, kok si Ikka makan dikit tetap gendut? gajah vegetarian aja gendut, ngapain aku cuma makan sayur? dan segala perbandingan lainnya yang enggak ada habisnya.

perbandingan inilah yang dulu membuat saya cukup stress dengan diri saya sendiri.

Hingga pada titik tengah, equilibrium, saya berusaha mengenali diri saya sendiri.

“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu”

Siapa yang mengenal jiwa (nafs)-nya, akan mengenal Tuhannya.

Ketika kita mengenali diri kita, maka kita bisa menjalani segalanya dengan cara kita, tidak melulu mengikuti cara dan capaian orang lain.

5 Oktober 2017

Hampir setahun draft tulisan ini berhibernasi di wordpress. unpublished.

setahun belakangan memang perjalanan hidup terasa lebih fluktuatif. menjadikan kehidupan di dunia maya dinomor13kan, bukan hanya dinomorduakan.

toh, meski hampir 350 hari berada di draft postingan wordpress, tulisan ini tidak akan menjadi lebih banyak. sama seperti uang yang nyelip di antara halaman-halaman buku. angka 0-nya tidak akan bertambah.

toh, meski hampir 350 hari berada di draft postingan wordpress, tulisan ini juga masih relevan untuk menjadi catatan diri ala-ala #notetomyself yang memang harus dibaca ketika merasa diri rendah dan hancur ataupun di kala hidup sedang naik-naiknya.

Membandingkan tak akan ada habisnya.

Berdamailah dengan diri sendiri

deal with yourself.

adalah satu-satunya cara di saat semua rencana dan ekspektasi kita jauh dari nyata. mungkin hanya sejauh kelingking dan jari manis, tapi di sanalah kita harus merelakan sebuah ruang untuk kekecewaan.

untuk yang membaca tulisan ini, pun yang menulis sendiri..

no problem to have your problem, now.

no problem you had the problem.

semua fase hidup yang kita rasakan dan pernah rasakan adalah sebuah pembelajaran.

enggak papa kok, kita pernah dirundung duka sampai lupa makan, karena rasanya permasalahanmu lebih menyita pikiran daripada rasa laparmu.

enggak papa kok, kita pernah merasa diri kita hancur, sehancur-hancurnya hancur, artinya kita pernah dihancurkan dan sekarang menjadi lebih kuat.

enggak papa kok, kita pernah sakit, sesakitnya-sakitnya sakit, dan rasa sakit membuat kita semakin kuat menahan rasa-rasa lainnya.

sumpah, semua itu enggak papa.

dulu saya selalu berpikir ketika kita divonis sakit, maka kehidupan kita menjadi kelabu,

dulu saya selalu berpikir, ketika kita punya masalah, kita adalah orang yang paling susah.

dulu saya berpikir bahwa kesulitan dalam satu fase hidup, akan membuat kita tertinggal dari yang lain.

sumpah, ternyata semua itu enggak papa.

We aren’t in a race.

semua yang pernah kita rasakan,

merasa memperlambat langkah kita,

menghambat jalan kita mencapai tujuan,

bukan sebuah kebetulan dan bukan sebuah kesalahan.

its okay, itu hanya sebuah pembelajaran.

pembelajaran membuat kita menjadi seseorang yang baru di tiap fase kehidupan.

Menjadi kita yang baru, karena kita yang dulu sudah semakin kuat

 

ingatkah bahwa kamu yang dulu menangis karena jatuh saat belajar jalan, kini tangisanmu semakin jarang terdengar?

ingatkah, kamu yang dulu mentok belajar perkalian di matematika, kini sudah hafal di luar kepala?

ah, bukankah yang kita alami semua ini hanyalah fase hidup.

lanjutkan saja hidup kita, dengan segala pembelajaran yang pernah kita rasakan. hidup kita patut diperjuangkan tanpa perlu perbandingan dengan kehidupan lainnya.

itulah kenapa tidak ada paper di jurnal nasional ataupun internasional yang membandingkan diri kita dengan orang lain. karena kehidupan kita bukan untuk dibandingkan, tapi diperjuangkan.

 

kok hidupmu damai banget si?

apakah karena kamu enggak tahu segalanya, jadi kamu tenang2 saja?

atau jangan2 kamu tahu segalanya jadi kamu tenang2 saja?

View on Path

Hai!
Sobat Peduli TORCH

Kami para Relawan ingin mengajak (kembali) kalian berdonasi melalui program “AYO DONASI” Komunitas Peduli TORCH dengan cara membeli #kaosdonasi “Saya, Kamu, Kita Peduli TORCH” yang mana donasi kawan kawan semua sebagian akan kami salurkan untuk mendukung project Film Edukasi yang sedang kami produksi. Film ini harapannya akan menjadi media pembelajaran dan pengenalan TORCH di Masyarakat, sehingga Indonesia lebih melek TORCH.
Harapannya juga dengan donasi dari sobat peduli sekalian, akan dapat mewujudkan VISI “Indonesia Tahu, Paham, dan Peduli TORCH” yang pada kali ini akan kira capai melalui pembuatan film drama edukasi.
Ayo Beli, Donasi, dan jadilah bagian dari Masyarakat Cerdas Peduli TORCH! Karena dengan anda memakai #KAOSDONASI, itu berarti anda telah ikut menjadi relawan yang mempopulerkan TORCH. ———————————————
APA ITU TORCH?

TORCH adalah akronim dari sekumpulan jenis infeksi yang terdiri dari Toxoplasmosis (Penyakit yang muncul karena adanya infeksi Toxoplasma gondii), Rubella Virus (Campak Jerman), Cytomegalovirus, dan Herpes Simplex Virus

Infeksi ini menjadi satu kelompok dikarenakan memberikan efek infeksi yang hampir sama pada manusia, terutama pada ibu hamil, janin, bayi baru lahir, dan anak-anak. ———————————————
AVAILABLE NOW “Tunik & Raglan Blue Series”

Chart Size Tunik
– S : P 76cm x L 46cm
– M : P 79cm x L 48cm
– L : P 82cm x L 50cm
– XL : P 85cm x L 52cm

Chart Size Raglan
– S : P 66cm x L 46cm
– M : P 69cm x L 48cm
– L : P 72cm x L 50cm
– XL : P 75cm x L 52cm

PRICE
Tunik* 130,000
Raglan 120,000

LIMITED EDITION!
Kalau kamu kamu PEDULI TORCH,
GRAB IT FAST!
Karena #kaosdonasi Seri Terbaru ini cocok jika kamu pakai untuk Couple-an, kado, foto dengan sahabat, foto group, dan lainnya. *Tunik (Busui Friendly) ———
Follow IG @pedulitorch @taksekadarjalan
Like Fanpage Peduli Torch
More Detail :
Tia +6282372966291
Habil +6282389339636

For Detail Picture
Monggo kami di Japri😎

View on Path

hai kaum yg lupa kalau pekan ini long weekend.
silakan balik kanan ke terminal tirtonadi sore ini.
karena tiket jam 4 dan 5 sudah habis.

jangan sampai jalan kaki ke terminal macam saya -___-”

View on Path

konon, asumsi sering salah, makanya kita disuruh tanya.

don’t assume just ask.

di kereta saya sering kasihan ama ibu2 hamil yang berdiri, dan akhirnya saya pilih berdiri sampai ke stasiun tujuan, biar ibunya bisa duduk.

tapi ternyata, yg dikasih tempat duduk: mbak2 tampak seperti hamil.

dan akhirnya kita malu sendiri kalo tanya2.

#notetomyself
di beberapa kasus, lebih baik tidak bertanya.

View on Path

nikah muda(h)?

Light Rain, 23°C

jangan sarankan nikah muda pada anak yang belum dewasa, ga semua orang punya taraf kedewasaan di usia yang sama.

variabel pembentuk kesiapan menikah itu berbeda2 di antara tiap orang, karena tiap orang punya latar belakang keluarga, kondisi keuangan, dan pengalaman serta kestabilan emosi yang bermacam-macam. tak bisa pukul rata bahwa di usia yang sama semua orang bisa melakukannya.

motivator nikah muda tidak menanggung kasus perceraian yang timbul, dan sayapun juga tidak bisa membantu, tapi saya cuma bisa mengingatkan.

persiapkan pernikahanmu (yang sunnah) sama seperti mempersiapkan ibadah haji (yang rukun Islam) yang hanya sekali seumur hidup.

tak terburu-buru, tak mengorbankan yang lebih penting, tak sampai berhutang, siap fisik, siap ilmu dan pengetahuan.

karena kamu ingin pernikahanmu berlangsung lebih lama daripada ibadah haji yang +-30 hari kan? kenapa kamu terburu2 untuk hal yang berlangsung seumur hidup?

persiapkanlah baik2, nak 🙂

Powered by Journey.