Bukan untuk Dibandingkan

12 November 2016

Akhir-akhir ini, saya makin meyakini bahwa setiap kita diciptakan berbeda dan tidak dibanding-bandingkan dengan sebuah parameter pengukuran yang sama.

kadang kan masyarakat belum terbuka ya untuk tidak membandingkan dengan ukuran yang salah.

misal kasus: kok anak saya makan apa saja enggak gendut2 ya, kok si Ikka makan dikit tetap gendut? gajah vegetarian aja gendut, ngapain aku cuma makan sayur? dan segala perbandingan lainnya yang enggak ada habisnya.

perbandingan inilah yang dulu membuat saya cukup stress dengan diri saya sendiri.

Hingga pada titik tengah, equilibrium, saya berusaha mengenali diri saya sendiri.

“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu”

Siapa yang mengenal jiwa (nafs)-nya, akan mengenal Tuhannya.

Ketika kita mengenali diri kita, maka kita bisa menjalani segalanya dengan cara kita, tidak melulu mengikuti cara dan capaian orang lain.

5 Oktober 2017

Hampir setahun draft tulisan ini berhibernasi di wordpress. unpublished.

setahun belakangan memang perjalanan hidup terasa lebih fluktuatif. menjadikan kehidupan di dunia maya dinomor13kan, bukan hanya dinomorduakan.

toh, meski hampir 350 hari berada di draft postingan wordpress, tulisan ini tidak akan menjadi lebih banyak. sama seperti uang yang nyelip di antara halaman-halaman buku. angka 0-nya tidak akan bertambah.

toh, meski hampir 350 hari berada di draft postingan wordpress, tulisan ini juga masih relevan untuk menjadi catatan diri ala-ala #notetomyself yang memang harus dibaca ketika merasa diri rendah dan hancur ataupun di kala hidup sedang naik-naiknya.

Membandingkan tak akan ada habisnya.

Berdamailah dengan diri sendiri

deal with yourself.

adalah satu-satunya cara di saat semua rencana dan ekspektasi kita jauh dari nyata. mungkin hanya sejauh kelingking dan jari manis, tapi di sanalah kita harus merelakan sebuah ruang untuk kekecewaan.

untuk yang membaca tulisan ini, pun yang menulis sendiri..

no problem to have your problem, now.

no problem you had the problem.

semua fase hidup yang kita rasakan dan pernah rasakan adalah sebuah pembelajaran.

enggak papa kok, kita pernah dirundung duka sampai lupa makan, karena rasanya permasalahanmu lebih menyita pikiran daripada rasa laparmu.

enggak papa kok, kita pernah merasa diri kita hancur, sehancur-hancurnya hancur, artinya kita pernah dihancurkan dan sekarang menjadi lebih kuat.

enggak papa kok, kita pernah sakit, sesakitnya-sakitnya sakit, dan rasa sakit membuat kita semakin kuat menahan rasa-rasa lainnya.

sumpah, semua itu enggak papa.

dulu saya selalu berpikir ketika kita divonis sakit, maka kehidupan kita menjadi kelabu,

dulu saya selalu berpikir, ketika kita punya masalah, kita adalah orang yang paling susah.

dulu saya berpikir bahwa kesulitan dalam satu fase hidup, akan membuat kita tertinggal dari yang lain.

sumpah, ternyata semua itu enggak papa.

We aren’t in a race.

semua yang pernah kita rasakan,

merasa memperlambat langkah kita,

menghambat jalan kita mencapai tujuan,

bukan sebuah kebetulan dan bukan sebuah kesalahan.

its okay, itu hanya sebuah pembelajaran.

pembelajaran membuat kita menjadi seseorang yang baru di tiap fase kehidupan.

Menjadi kita yang baru, karena kita yang dulu sudah semakin kuat

 

ingatkah bahwa kamu yang dulu menangis karena jatuh saat belajar jalan, kini tangisanmu semakin jarang terdengar?

ingatkah, kamu yang dulu mentok belajar perkalian di matematika, kini sudah hafal di luar kepala?

ah, bukankah yang kita alami semua ini hanyalah fase hidup.

lanjutkan saja hidup kita, dengan segala pembelajaran yang pernah kita rasakan. hidup kita patut diperjuangkan tanpa perlu perbandingan dengan kehidupan lainnya.

itulah kenapa tidak ada paper di jurnal nasional ataupun internasional yang membandingkan diri kita dengan orang lain. karena kehidupan kita bukan untuk dibandingkan, tapi diperjuangkan.

 

Advertisements

kok hidupmu damai banget si?

apakah karena kamu enggak tahu segalanya, jadi kamu tenang2 saja?

atau jangan2 kamu tahu segalanya jadi kamu tenang2 saja?

View on Path

Hai!
Sobat Peduli TORCH

Kami para Relawan ingin mengajak (kembali) kalian berdonasi melalui program “AYO DONASI” Komunitas Peduli TORCH dengan cara membeli #kaosdonasi “Saya, Kamu, Kita Peduli TORCH” yang mana donasi kawan kawan semua sebagian akan kami salurkan untuk mendukung project Film Edukasi yang sedang kami produksi. Film ini harapannya akan menjadi media pembelajaran dan pengenalan TORCH di Masyarakat, sehingga Indonesia lebih melek TORCH.
Harapannya juga dengan donasi dari sobat peduli sekalian, akan dapat mewujudkan VISI “Indonesia Tahu, Paham, dan Peduli TORCH” yang pada kali ini akan kira capai melalui pembuatan film drama edukasi.
Ayo Beli, Donasi, dan jadilah bagian dari Masyarakat Cerdas Peduli TORCH! Karena dengan anda memakai #KAOSDONASI, itu berarti anda telah ikut menjadi relawan yang mempopulerkan TORCH. ———————————————
APA ITU TORCH?

TORCH adalah akronim dari sekumpulan jenis infeksi yang terdiri dari Toxoplasmosis (Penyakit yang muncul karena adanya infeksi Toxoplasma gondii), Rubella Virus (Campak Jerman), Cytomegalovirus, dan Herpes Simplex Virus

Infeksi ini menjadi satu kelompok dikarenakan memberikan efek infeksi yang hampir sama pada manusia, terutama pada ibu hamil, janin, bayi baru lahir, dan anak-anak. ———————————————
AVAILABLE NOW “Tunik & Raglan Blue Series”

Chart Size Tunik
– S : P 76cm x L 46cm
– M : P 79cm x L 48cm
– L : P 82cm x L 50cm
– XL : P 85cm x L 52cm

Chart Size Raglan
– S : P 66cm x L 46cm
– M : P 69cm x L 48cm
– L : P 72cm x L 50cm
– XL : P 75cm x L 52cm

PRICE
Tunik* 130,000
Raglan 120,000

LIMITED EDITION!
Kalau kamu kamu PEDULI TORCH,
GRAB IT FAST!
Karena #kaosdonasi Seri Terbaru ini cocok jika kamu pakai untuk Couple-an, kado, foto dengan sahabat, foto group, dan lainnya. *Tunik (Busui Friendly) ———
Follow IG @pedulitorch @taksekadarjalan
Like Fanpage Peduli Torch
More Detail :
Tia +6282372966291
Habil +6282389339636

For Detail Picture
Monggo kami di Japri😎

View on Path

hai kaum yg lupa kalau pekan ini long weekend.
silakan balik kanan ke terminal tirtonadi sore ini.
karena tiket jam 4 dan 5 sudah habis.

jangan sampai jalan kaki ke terminal macam saya -___-”

View on Path

konon, asumsi sering salah, makanya kita disuruh tanya.

don’t assume just ask.

di kereta saya sering kasihan ama ibu2 hamil yang berdiri, dan akhirnya saya pilih berdiri sampai ke stasiun tujuan, biar ibunya bisa duduk.

tapi ternyata, yg dikasih tempat duduk: mbak2 tampak seperti hamil.

dan akhirnya kita malu sendiri kalo tanya2.

#notetomyself
di beberapa kasus, lebih baik tidak bertanya.

View on Path

nikah muda(h)?

Light Rain, 23°C

jangan sarankan nikah muda pada anak yang belum dewasa, ga semua orang punya taraf kedewasaan di usia yang sama.

variabel pembentuk kesiapan menikah itu berbeda2 di antara tiap orang, karena tiap orang punya latar belakang keluarga, kondisi keuangan, dan pengalaman serta kestabilan emosi yang bermacam-macam. tak bisa pukul rata bahwa di usia yang sama semua orang bisa melakukannya.

motivator nikah muda tidak menanggung kasus perceraian yang timbul, dan sayapun juga tidak bisa membantu, tapi saya cuma bisa mengingatkan.

persiapkan pernikahanmu (yang sunnah) sama seperti mempersiapkan ibadah haji (yang rukun Islam) yang hanya sekali seumur hidup.

tak terburu-buru, tak mengorbankan yang lebih penting, tak sampai berhutang, siap fisik, siap ilmu dan pengetahuan.

karena kamu ingin pernikahanmu berlangsung lebih lama daripada ibadah haji yang +-30 hari kan? kenapa kamu terburu2 untuk hal yang berlangsung seumur hidup?

persiapkanlah baik2, nak 🙂

Powered by Journey.

Light Rain, 25°C

rekor baru
rumah kantor yg jaraknya +-12km ditempuh dalam 45 menit
apakah karena kantornya pindah atau karena saya sudah pernah latihan #backtowork? wallahualam

yang jelas, boros waktu dalam perjalanan ke kantor pas kita bersepeda itu investasi kesehatan, apalagi yg kerjanya backoffice macam saya :l

buat temen2 yg “biker”, khususnya biker wanita, ada rekomendasi merk atau tips biar joknya enggak bikin sakit?

Powered by Journey.

Istikharah dan Who Wants to Be A Millionaire

Mungkin beberapa dari kita adalah =orang yang percaya, bahwa semua hidup kita ini by design. Tidak ada yang kebetulan, tidak ada yang namanya ndilalah. Keputusan yang kita ambil, tepat atau tidak, adalah sebuah jalan yang sudah ditakdirkan.

Kata2 di atas didapat setelah 23 tahun menginjak bumi, bukan hasil instan, sahabat  yang super. Bahkan sampai hari ini mungkin di antara kita masih kerap berpikir,

“apakah yang kita jalani saat ini adalah yang terbaik?”

“apakah yang kita pilih ini paling bermanfaat untuk orang lain? kalau untuk kita sendiri?”

“mana yang lebih baik kita pilih?”

Dan banyak sekali yang menjadi pertimbangan dalam permasalahan sehari-hari, bahkan soal mau membuat jus atau infused water..

—-

Dalam hidup ini, pilhan itu pasti ada. Ilmu ekonomi yang sudah dipelajari bertahun-tahun pun membahas soal pilihan.

Siapa ingat Kuis Who Wants to be A Millionaire? Nasib kita di kuis itu (dan kehidupan nyata) dipertaruhakan dalam beberapa pertanyaan, 4 pilihan jawaban, dan hanya 1 jawaban yang benar.

Bisa dibantu ask the audience, phone a friend, dan 50:50. gampang kan? karena jelas kebenarannya cuma 1.

Enggak ada kuis yang jawabannya a: agak benar b: iya enggak yaaa c: bener si, tapi… d: iya kah?

Sayangnya pilihan dalam hidup tak semudah Who Wants to be a Millionaire (dari film Slumdog Millionaire)

Hidup ini terlalu banyak pilihan, dan memilih tak semudah mengerjakan soal pilihan ganda.

Dalam dunia ini, kebenaran hanya milik Tuhan, yang maksum (bebas salah) hanyalah Rasulullah SAW,

jadi dari sekian banyak pilihan bisa jadi ada yang salah dan agak salah ataupun benar dan sangat benar, kita harus tetap memilih.

dan yang membuat =semakin sadar, ternyata jika yang kita pilih benar, maka yang lain belum tentu salah. Padahal dulu masih terlalu naif kalau enggak benar ya salah, sampai-sampai teteh bilang “kamu masih polos, nanti juga kamu bakal tahu, Ikka”.Haha, dan akhirnya semakin lama di bumi, semakin tahu rumitnya dunia ini… kadang, jadi rindu momen2 menjadi guru, karena pelajaran dan ujian yang diajarkan lebih sederhana dari ujian hidup ini.Tuhan menciptakan sholat istikharah mungkin untuk membantu kita mengambil pilihan2 yang semakin kita dewasa semakin membingungkan. (atau saya yang penuh dosa ya, jadi pilihannya makin membingungkan saja)Sholat istikharah jadi senjata pamungkas saat keputusan-keputusan perlu dipilih, ketika logika sudah mentok, dan nurani  pasrah.

untuk tata cara sholat, ustadz2 ini lebih paham >>> https://rumaysho.com/881-panduan-shalat-istikhoroh.html

jawabannya? kadang ngarep Tuhan langsung kirim email dengan subject: JAWABAN, tapi jawaban pun tak sesedaerhana itu….
kadang jawaban muncul dalam mimpi, kalimat dari buku yang dibaca, atau film yang ditonton. dan pertanda, yang entah bagaimana harus menafsirkannya, hingga hari ini belum menemukan jawabannya:

kalau kita menemukan halangan, apakah itu firasat bahwa kita harus berhenti, atau itu ujian keteguhan hati kita dalam memilih?

dan doa di akhir scene film terbaik di Malaysia ini (http://nonton.to/munafik-2016/)  menyadarkan,

bahwa sekeras apapun logika kita bisa memilih,

pilihan itu tak lepas dari-Nya,

dan sebaik-baik pilihan adalah pilihan-Nya.,

Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri dengan sendiri-Nya, dengan rahmat-Mu aku mohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.”

(HR. Abu Dawud no. 5090, Ahmad no. 27898 Ibnu Hibban. Dihassankan oleh Syaikh Syuaib Al-Arnauth dan Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 3388))

 

…Perbaikilah urusanku seluruhnya

dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku

walau hanya sekejap mata….